Sabtu, 14 Mei 2011

Pesona dan Persona Buah Mengkudu (Pace)

            Buah mengkudu atau pace merupakan salah satu bentuk Maha Kreativitas Allah SWT yang di dalamnya banyak sekali mengandung fungsi, manfaat, dan hikmah atau pelajarannya, baik untuk fisik maupun psikis. Selain sebagai bentuk Maha Kreativitas, buah ini juga sebagai salah satu bentuk Maha Kasih Sayang Allah SWT terhadap seluruh mahluknya terutama bagi yang merasa dan menyadari mendapatkan kasih sayang itu. Mahluk yang seperti ini akan mengatakan "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (QS. Ali ‘Imran: 191).
Pohon mengkudu atau pace tumbuh pada tanah berkapur dengan ketinggian 1.000m dpl. Tingginya hanya sekitar 3-8 m dengan batang pokok jelas. Daun bertepi rata, berwarna hijau kekuningan. Bunganya berbentuk bonggol diketiak daun. Buahnya berbenjol-benjol tidak teratur. Panjangnya mencapai 5-10 cm. pace. Pada kesempatan kali ini penulis hanya akan fokus pada pembahasan mengenai buahnya saja.
Buah mengkudu atau pace jika dilihat dari fisiknya bukanlah merupakan buah yang tampak cantik dan menarik hati setiap orang yang melihatnya. Hal ini karena, kulitnya banyak sekali benjolan-benjolan hitamnya yang menyerupai bisul. Sehingga tidak sedikit dari para manusia justru menganggapnya sebagai buah yang tidak mengandung fungsi, manfaat dan hikmah apapun. Namun, sejatinya di dalamnya terkandung tatahan-tatahan mutiara hikmah dan obat yang luar biasa menakjubkan bagi setiap orang yang sudi memahami dan menteladaninya. Keadaan buah mengkudu atau pace ini mengajarkan kepada setiap manusia untuk bersikap rendah hati, tidak sombong, tidak angkuh, dan tidak ujub untuk mendapatkan pujian atau pengakuan dari pihak eksternal atau usaha memanipulasi pihak luar dengan sesuatu yang sebenarnya tidak ada dalam dirinya. Ia menghujamkan dirinya yang sesungguhnya di tanah yang terasing sehingga tampak sebagai sesuatu yang seolah-olah tidak mempunyai keistimewaan apapun di pandangan pihak lain.
Sikap dan perilaku pengasingan diri ini dalam diskursus tasawwuf sering disebut dengan khalwat. Khalwat yang dimaksud bukanlah seperti orang melakukan ritual tapa brata, yaitu pergi ke dan berdiam diri di suatu tempat yang sepi untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Tapi lebih jauh dari itu semua, khalwat yang dilakukan oleh buah mengkudu ini lebih tinggi kedudukannya. Ia mengasingkan ke-diri-annya untuk mengubah sifat-sifat tercelanya menjadi sifat-sifat terpuji dengan selalu berdzikir kepada Tuhannya dan tetap bersosialisasi dengan lingkungannya.
Buah mengkudu memiliki kandungan Scopoletin, yaitu suatu senyawa yang berfungsi mengatur tekanan darah. Saat tekanan darah tinggi, scopoletin membantu menurunkan. Sebaliknya bila tekanan darah menjadi rendah, ia akan menaikkannya. Selain berindikasi antibakteri, senyawa ini juga mengatur hormone serotonin, yang membantu menurunkan kadar kecemasan dan depresi. Selain itu juga mengandung Morindin, zat ini berkhasiat dalam meningkatkan system pertahanan tubuh. Selain dua zat di atas, pace juga mengandung gum, asam malat, asam sitrat, dan senyawa antiseptic.
Walaupun buah mengkudu menyembunyikan kompetensinya dalam pakaian kesederhanaan dan cenderung dilecehkan tetapi ia memiliki perasaan dan kesadaran sebagai mahluk yang berkewajiban melaksanakan amar ma’ruf nahyi munkar. Rupanya ia adalah sosok yang selalu berusaha membantu para mahluk yang lain untuk dapat mengaktualisasikan fitrahnya sehingga menjadi mahluk yang dapat menjalankan fungsi aslinya secara baik dan benar. Manusia mempunyai dua fungsi sekaligus, yakni fungsi sebagai hamba yang sudah selayaknya menghamba kepada Tuhannya dan juga sebagai khalifah yang harus menjaga keseimbangan alam semesta.
Buah mengkudu mudah sekali terpanggil untuk membantu saudara-saudaranya sesama mahluk yang sedang mengalami inkonsistensi religiousitas untuk segera kembali ke track yang semestinya, yaitu suatu kondisi dimana manusia menjadi manusia. Jika buah mengkudu melihat ada manusia yang angkuh, congkak, sombong, dan merasa tinggi dibandingkan orang lain maka dia segera mengajaknya untuk kembali menjadi manusia yang normal dan positif. Upaya yang dilakukannya pun sungguh bijak dan arif sehingga tidak menimbulkan efek negatif. Begitu pula ketika melihat ada manusia yang hidupnya tidak ada gairah untuk maju atau belum maju dia segera mendatanginya. Upaya yang dilakukannya bukanlah sekedar memberi nasihat semata tapi ia berusaha menumbuhkan potensi yang sebenarnya telah dimiliki oleh mereka.
Itulah buah mengkudu. Dia memiliki kemampuan menstabilkan bahkan meningkatkan menjadi positif kondisi manusia. Walaupun begitu dia tidak menampakkan kemampuannya itu di hadapan mahluk lain. Kemampuannya itu diselimuti dengan kain kesederhanaan. Kemampuannya tidak tampak hanya sekedar dilihat, tapi dapat ditemukan dengan dirasakan.
Semoga kita semua dapat melihat, mempelajari, memahami, menteladani, mengempati, dan menjiwainya. Amin.       

Kepribadian Pohon Kurma


            Setiap dari kita pasti mengenal yang namanya pohon kurma. Kalaupun belum pernah melihat secara langsung tetapi kita pernah merasakan manisnya buah kurma, apalagi kalau sedang musim haji atau saat bulan puasa Ramadlan. Pohon ini memang tidak lazim tumbuh di daerah selain padang pasir. Kenapa hanya bisa tumbuh di daerah seperti itu, padahal padang pasir itu kadar airnya sangat minim. Mengapa Allah merekayasa seperti itu? Ada pesan apa di balik itu semua?
            Allah Maha Kreatif. Setiap hasil karya-Nya tidak akan mampu ditandingi oleh siapapun. Seandainya seluruh manusia di dunia ini berkumpul untuk berusaha membuat sesuatu yang setidaknya mirip saja dengan apa yang Allah ciptakan pasti tidak akan mampu. Setiap karya-Nya pasti akan menarik setiap hati yang memandangnya untuk tertegun, dan kemudian mengucapkan “Masya Allah”. Walaupun yang dipandang baru sekedar bentuk luarnya saja. Hati kita akan reflek mengucapkan "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (QS. Ali ‘Imran: 191) ketika kita telah mampu memahami pesan yang ada di balik karya-karya itu. 
            Selain itu karya-karya yang diciptakan juga sebagai bentuk kasih sayang Allah. Dia selalu menjaga dan membimbing para mahluknya agar tetap berada pada jalan yang lurus. Salah satu cara bagaimana mencurahkan kasih sayangNya adalah dengan menyampaikan nasihatNya melalui karya-karyaNya. Itulah Allah, walaupun Dia itu Tuhan tetapi juga bersikap tawadlu’. Setiap mencurahkan kasih sayangNya tidak kemudian ditampak-tampakkan walaupun Dia berhak untuk itu. Salah satu karya besar Allah sebagai bentuk Maha Besarnya, Maha Kreatifnya, dan Maha Kasih Sayangnya adalah diciptakannya pohon kurma.
            Pohon kurma ketika diamati dari sisi fisik memang tidak begitu indah, walaupun begitu tidak akan ada yang mampu membuat yang setidaknya serupa dengan itu. Namun ketidakindahan yang ada pada pohon kurma itu justru tersimpan pelajaran dan nasihat yang sangat luar biasa dan sudah semestinya harus ditauladani.
            Bentuk fisik yang tidak begitu indah jika dilihat sekedar dengan mata telanjang bukanlah suatu halangan untuk berbuat yang bermanfaat bagi diri, keluarga dan lingkungannya. Ketidakindahan itu justru merupakan sebuah anugerah dan bentuk kasih sayang Allah yang luar biasa. Dengan kondisinya yang seperti itu dia dapat melindungi dirinya dari segala sifat yang tercela, semisal riya’, sombong, angkuh, dan congkak. Selain itu juga merupakan bukti bahwa penilaian Allah bukanlah berdasarkan atas apa yang dia miliki, tetapi pada bagaimana dia bersikap dan berperilaku. Karena yang berhak menilai hanyalah Allah semata “ilallahi marji’ukum jami’a”.
            Mengapa Allah tumbuhkan pohon kurma itu di padang pasir. Ternyata ketika direnungi secara mendalam terdapat suatu pelajaran, nasehat, dan hikmah yang luar biasa. Padang pasir yang gersang dan jauh dari sumber air merupakan gambaran dari situasi dan kondisi yang sempit atau berat atau serba dekat dengan kesulitan-kesulitan. Pohon kurma walaupun hidup dalam kondisi kesusahan atau sulit tetap berupaya untuk selalu survive. Berusaha untuk tetap hidup, tumbuh dan berkembang sebagaimana layaknya pepohonan lainnya yang hidup dengan taraf kesejahteraan yang tinggi.
            Bagi pohon kurma, situasi dan kondisi jauh dari air bukanlah halangan untuk tetap beraktualisasi dan berprestasi. Pada kenyataannya dia mampu berbuah dengan buah yang kemanisan dan khasiatnya bagi kesehatan diakui oleh manusia seluruh alam. Selain itu pohon kurma juga terbuka bagi siapa saja tanpa pernah memperhitungkan apakah dia muslim atau tidak, kaya ataukah miskin, laki-laki ataukah perempuan, pejabat ataukah rakyat jelata, dari barat ataukah dari timur, dari selatan ataukah dari selatan, berkulit putih ataukah berwarna yang ingin berteduh di bawahnya. Semuanya merasakan kedamaian, keterbukaan, dan keadilan. Bahkan tidak sekedar memberikan tempat untuk berteduh, para tamu yang berkenan hadir juga disuguhi dengan kemanisan buah kurma.
            Dengan melalui pohon kurma Allah menyampaikan dan mencurahkan kasih sayangNya bagi manusia. Kasih sayang berupa pesan yang harus ditauladani oleh manusia dalam mengarungi kehidupan di dunia ini. PesanNya adalah
  1. Walaupun hidup dalam kondisi sulit, susah, sempit, dan sengsara janganlah mudah putus asa. Jadikanlah kondisi itu sebagai motivator dan spirit yang mendorong kepada perilaku lebih kreatif dalam rangka mencari jalan keluar yang positif.
  2. Manusia selain sebagai hamba Allah juga sebagai khalifah di muka bumi ini yang rahmatan lil’alamin. Dia diharapkan mampu bersikap dan berperilaku bijak dalam menjaga keseimbangan kosmos yang warna warni. Sikap dan tindakannya dipertimbangkan atas apa sebaik dan sebenarnya harus dilakukan.

Makna Difardlukannya Shalat


“Sesungguhnya shalat adalah fardlu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman” (QS. An-Nisa’: 103)
           
            Setiap orang Islam wajib melaksanakan shalat lima waktu dalam sehari semalam. Bagaimanapun kondisinya shalat lima waktu ini harus dilaksanakan, kecuali bagi para wanita yang sedang haid, bagi orang gila, bagi orang yang sedang pingsan, dan bagi orang yang sedang mabuk. Diwajibkannya setiap orang Islam untuk melaksanakan shalat lima waktu bagaimanapun kondisinya ini kemudian menimbulkan berbagai pertanyaan yang mendasar. Diantaranya adalah mengapa Allah SWT mewajibkan kita untuk melaksanakan shalat? Apakah hukum wajib melaksanakan shalat itu merupakan salah satu bentuk keinginan Allah SWT untuk selalu disembah oleh para mahlukNya? Atau karena apa?
Shalat bukan sekedar merupakan salah satu media komunikasi transendental antara mahluk dengan Tuhannya yang sifatnya pokok, dimana di situ mahluk dapat menyembah-Nya dengan penuh rasa kekaguman, keikhlasan, kepatuhan, dan sekaligus kecintaan, serta berdo’a, tetapi ternyata prosesi itu memiliki dampak turunan yang positif bagi fisik dan psikis.
            Shalat akan mengawal dan membimbing orang yang melaksanakannya untuk tetap berada dalam fitrahnya, yaitu mentauhidkan Allah SWT, mengakui ke-Esaan-Nya, mendambakan dan merindukan kebenaran, dan ingin selalu mengikuti ajaran-ajaran-Nya. Sehingga di dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa shalat akan menghindarkan orang yang melaksanakannya dari perbuatan keji dan mungkar (Al-‘Ankabut: 45).
            Nabi Muhammad SAW dalam beberapa haditsnya mengatakan bahwa shalat dapat membuat tenang, tentram, dan damainya jiwa. Selain itu, shalat juga dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit, seperti penyakit perut yang pernah diderita oleh sahabat Abu Hurairah R.A. Berbagai fungsi shalat sebagaimana telah diterangkan, ternyata juga telah dibuktikan kebenarannya secara ilmiah melalui penelitian oleh para pakar dari berbagai disiplin keilmuan, seperti medis dan psikologi.
            Jika ditelaah secara lebih mendalam lagi, berbagai fungsi dan manfaat shalat seluruhnya membimbing dan mengarahkan orang yang melaksanakannya untuk dapat kembali kepada kondisi fitrahnya setelah melalang buana mengarungi curam terjal, hitam putih, dan pahit manisnya dunia. Di dunia, manusia bergelut dengan berbagai rintangan dan godaan yang memiliki kecenderungan mengaburkan atau bahkan menghilangkan kefitrahannya. Manusia yang telah kabur atau hilang kefitrahannya biasanya akan kehilangan fungsi pokok dirinya sebagai hamba dan sebagai mandataris Allah SWT di dunia ini. Padahal kedua fungsi itu merupakan inti dari kebermaknaan hidup.
            Bukti lain bahwa shalat berfungsi membimbing dan mengarahkan manusia untuk kembali kepada fitrahnya dapat dilihat dari gambaran hitungan sudut dari setiap gerakan rukun yang dilakukan oleh seluruh anggota tubuh dalam satu reka’at. Berdiri dalam reka’at sama dengan 00, ruku’ 900, dan sujud dua kali dengan masing-masing 1350 jadi jumlahnya 2700. Rangkaian gerakan ini dengan sudutnya masing-masing jika dijumlahkan maka hasilnya adalah 3600 atau sama dengan satu lingkaran penuh. Berangkat dari satu titik (fitrah) kembali ke titik (fitrah) semula.
            Berdasarkan keterangan di atas maka kita setidaknya mendapat jawaban dengan sebuah kesimpulan bahwa difardlukannya shalat lima waktu selain sebagai rukun, shalat juga merupakan bentuk kasih sayang Allah SWT kepada setiap mahluknya yang Islam dan iman dengan penuh keihsanan. Allah SWT sama sekali tidak menghendaki setiap makhluknya hidup dalam kesengsaraan. Untuk itu, menjemput dan meraih kasih sayang Allah SWT yang agung itu dengan menjadikan shalat sebagai sebuah kebutuhan bukan sekedar sebagai kewajiban tentunya akan lebih terasa nikmat melaksanakannya. Karena orang yang mendapat kasih sayang Allah SWT ketika berbuat sesuatu akan memiliki kesadaran bahwa setiap perbuatannya tidak hanya dilihat benar menurut dirinya, tetapi baik menurut dan bagi orang lain, juga sah menurut ajaran Allah SWT.    

Enterpreneurship Tanah Liat


Manusia adalah tanah
            Setujukah Anda dengan ungkapan di atas? Setuju boleh, tidak juga itu hak Anda. Kita demokratus saja. Namun, coba baca, fahami, renungkan, ajukanlah pertanyaan pada diri sendiri, dan kemudian ungkapkanlah sebagai sebuah pendapat. Jangan takut salah, karena di sini tidak ada penilaian benar dan salah. Semua pendapat akan mendapat penghargaan yang sama sebagai ”MANUSIA SEJATI” karena keberaniannya mengungkapkan pendapat.
            Sudah belum? Kalau belum, bagaimana kalau saya dulu. Bolehkah? Kok diam saja? Ok! Kata orang bijak diam juga pendapat, yang berarti setuju. Terima kasih.
            Manusia dalam hidup ini pasti selalu berhubungan dengan tanah. Dalam beberapa referensi dikatakan bahwa manusia itu terbuat dari sari tanah atau unsur-unsur yang ada dalam tanah. Selain itu kita juga hidup di atas tanah. Adakah yang memungkiri hal ini? Bahkan ketika di rumah, atap dan dinding rumah kita juga ada yang terbuat dari tanah. Tidak sekedar itu saja, seberapa pun kekuatan kita untuk terbang tinggi ke angkasa, tanah ternyata juga akan menarik dengan kekuatannya yang luar biasa, yaitu gaya gravitasi. Coba renungkan sekali lagi!......... Eh! Jangan terlalu serius kayak gitu! Santai saja kawan! Slowly, softy, easy going! Sudah belum? Kalau sudah cobalah ajukan pertanyaan  semisal, mengapa hidup kita sangat lekat dengan tanah? Tidak hanya ketika kita hidup, sudah mati pun tanahlah yang menemani kita. Sebenarnya, ada apa dengan tanah? Dan pesan apakah yang ingin disampaikan Tuhan kepada kita lewat tanah ini?
            Ok! Mari kita coba telusuri pelan-pelan! Namun, sebelumnya bagaimana kalau kita relaksasi sebentar biar otak kita ini encer. Saya pandu ya? Ok! Sekarang lemaskan dulu otot-otot tubuh kita, jangan ada yang ditekuk. Ambil nafas pelan-pelan lewat hidung, bawa ke perut, tahan sebentar, ya lepaskan pelan-pelan lewat hidung. Lagi…lagi…sekali lagi. Sip! Gimana? Dah lumayan? Nah kalau sudah, sekarang kita bisa mulai.
            Adakah dari kita yang belum pernah menginjakkan kakinya di atas tanah? Tolong jawab dengan jujur! Saat kita menginjakkan kaki di atas tanah, pernahkah kita berfikir dan merasakan perilaku kita? Coba bayangkan kalau kita sedang menginjak tanah dengan kaki telajang…..berfikirlah tentang itu….rasakan perilaku itu dengan hati! Apa yang anda fikirkan dan renungkan? Apapun itu simpanlah dulu!
            Baik! Sekarang ungkapkan dan jangan berargumen!
            Good! Anda telah berhasil di tahap awal. Bersendawalah! Mungkin itu dapat mengurangi ketegangan.
            Sekarang peganglah tangan atau tengkuk anda, kemudian gosoklah sehingga keluar sesuatu dari kulit itu! Sudah keluar? Apa itu?
            Apa di dekat anda ada makanan? Kalau ada, kira-kira makanan itu berasal dari tanaman yang tumbuh di tanah bukan? Atau pernahkah anda memakan atau meminum sesuatu yang tidak pernah bersentuhan dengan tanah?
            Anda sudah punya jawabannya? Kalau sudah, coba tengok kembali kaki kita! Apakah tanah ada di bawah kaki kita? Bisakah kita berempati? Biar empati kita bisa lebih mengena, cobalah untuk meninggalkan ego kita. Apa yang anda rasakan?
            Bukankah posisi tanah ada di bawah kita? Samakah derajatnya dengan kita? Apakah anda merasa lebih mulia daripadanya?
            Walaupun tanah berada di bawah telapak kaki kita, namun jika kaki kita mengalami masalah pastilah dapat merasakan sesuatu darinya yang menggelitik, sehingga kadang-kadang menjadikan kita berusaha menghindarinya dengan cara apapun. Ini artinya, tidaklah selamanya bahwa sesuatu yang selalu berada di bawah kita itu tidak memiliki potensi. Untuk dapat lebih memahaminya, tengoklah dinding rumah anda! Dinding yang selalu anda gunakan untuk berlindung dari kenakalan angin malam atau ancaman para penjahat. Apakah dinding rumah anda terbuat dari batu bata? Setahu anda batu bata terbuat dari apa?
            Atau tataplah atap rumah anda? Apakah atap rumah anda berupa genteng? Dari apa pula genteng itu terbuat? Apakah tanah liat dengan sendirinya dapat menjadi genteng? Di bawahnyalah kita berlindung dari hujan dan terik matahari.
            Tanah liat berubah menjadi batu bata atau genteng semuanya melalui proses yang panjang dan tidak mudah. Apakah anda tahu prosesnya?
            Tanah lihat harus diolah dengan berbagai campuran yang mendukungnya. Kemudian dia dibentuk, dijemur di bawah terik matahari yang panas, dirapihkan, dan kemudian dibakar di api dengan suhu yang sangat tinggi. Kita bayangkan betapa tersiksanya dia. Itupun belum ada jaminan apakah dia akan berhasil menjadi batu bata atau genteng yang berkualitas. Karena biasanya ada yang merah bagus dan tidak sedikit yang setengah hitam setengahnya lagi merah, malah kadang-kadang patah. Batu bata atau genteng yang merah biasanya memiliki kualitas yang tinggi sehingga daya jualnya pun mahal dan diapun siap untuk menjadi dinding yang kokoh atau menjadi atap rumah yang bisa melindungi para manusia atau hewan-hewan yang ada di bawahnya. Tapi, bagaimana nasib batu bata atau genteng yang setengah hitam setengah merah? Bagaimana daya jualnya? Apakah dia akan menjadi dinding yang kokoh atau menjadi atap yang tidak mudah bocor? Biasanya dia paling-paling akan kembali menjadi pijakan manusia dan tragisnya lagi dia tidak bisa membantu tumbuh-tumbuhan untuk dapat tumbuh dengan baik, malah umumnya dia akan menghalangi perkembangan tumbuh-tumbuhan.
            Bagaimana? Seberapa banyakkah sesuatu di dunia ini yang jika diinginkan dapat terwujud dengan instants. Para orang sukses di dunia ini menjadi sukses tidaklah mereka meraihnya dalam waktu sekecap, tapi butuh waktu yang panjang dan perjuangan yang tak pernah kenal lelah. Mereka awalnya rata-rata juga orang biasa sebagaimana kita, namun mereka mau bekerja dari nol. Mereka tidak mempunyai apa-apa, hanya keinginan,  kemauan, semangat, dan bertindaklah yang selalu melekat dan menghiasi dirinya. Dalam perjalanan menuju kesuksesan itu juga banyak kerikil-kerikil tajam yang kadang dapat melukai kulit bahkan mengancam jiwanya, tapi semua itu oleh mereka dianggap sebagai ujian yang apabila mereka mampu melewatinya maka akan lulus dan naik kelas. Kesuksesan itu tadak hanya berarti untuk dirinya sendiri, orang lain juga merasakannya.
            Kita dapat belajar dari orang-orang yang katakanlah bisa dianggap sukses di negeri ini, seperti ust. Lihan, Dahlan Iskan, Ciputra, dan masih banyak lainnya. Dulu mereka bukanlah siapa-siapa, namun sekarang siapa yang tidak mengenalnya. Pelajari, renungkan, dan contohlah perjuangannya! Jangan pelajari kesuksesannya! Supaya setelah sukses bisa tetap survive belajarlah kepada orang-orang yang pernah sukses. Mereka pasti memiliki banyak nasehat yang sangat berharga, seperti sejarah kenapa mereka hancur atau tergelincir dari kesuksesannya. Karena orang cerdas akan belajar dari kesalahan mereka, dan yang benar-benar bijak adalah mereka yang belajar dari kesalahan orang lain.
            Ust. Lihan bukanlah orang yang hanya sukses secara materi, tapi beliau juga sukses dalam kahidupan sosial dan spiritualnya. Contoh yang lebih komplit lagi atau bisa dikatakan sempurna, kita bisa belajar dari Baginda Rasullah SAW. Beliau bisa dikatakan sukses dalam berbagai segi kehidupan.
            Hidup adalah belajar. Jika kita ingin sukses teruslah belajar dan belajar jangan pernah bosan walaupun mungkin itu pernah kita pelajari. Belajar bisa lewat guru, belajar dari kisah-kisah, dan belajar untuk belajar. Hal ini karena keberhasilan sejati adalah meningkatkan tingkat kedamaian batin dan kedekatan dengan Tuhan, yang tidak dapat digoyahkan oleh pasang-surut peristiwa-peristiwa yang bersifat sementara.