اَلنَّظَافَةُ مِنَ اْلإِيْمَانِ
“Kebersihan itu Sebagian dari Iman”
(Al-Hadits)
Petikan Hadits di atas dilihat dari kalimatnya sangatlah simpel dan jelas maknanya. Oleh karenanya, Hadits tersebut mudah diucapkan, didengarkan, dan diingat oleh siapapun. Sedangkan, apabila dilihat dari sisi makna kebersihan itu merupakan suatu kata benda abstrak yang di dalamnya mengandung kata kerja. Jadi, iman kita belumlah dikatakan sempurna apabila belum ada tindakan menjaga kebersihan.
Keringkasan dan kejelasan hadits tersebut mestinya juga seiring dengan kemudahan dalam mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Namun, ternyata hepotesa tersebut tertolak. Pada kenyataannya, pengaplikasian hadits tersebut bukanlah suatu hal yang mudah untuk dilakukan.
Jujur saja, dalam kehidupan sehari-hari kita tidak luput dari membuang sampah sembarangan yang akhirnya berefek pada timbulnya bencana banjir, penyakit, dan lain sebagainya. Realita ini menunjukkan bahwa Hadits tersebut tidak cukup hanya diucapkan, didengarkan, dan diingat saja, namun butuh dijiwakan agar supaya kita mampu memahami dan mencintai kebersihan, serta melakukan tindakan menjaga kebersihan dan membuang sampah pada tempatnya.
Untuk menjiwakan Hadits tentang kebersihan ini dalam diri kita tentunya bukan suatu hal yang sederhana. Pendidik-pendidik kita, termasuk orang tua dan lingkungan masyarakat pastinya sudah berusaha semaksimal mungkin agar Hadits tersebut dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Hanya saja mungkin, strateginya belum tepat. Kita tentunya tetap harus berterima kasih kepada mereka atas berbagai usaha yang telah dilakukannya.
Usaha menjiwakan hadits tersebut tidak cukup hanya melalui proses pengajaran saja, namun juga harus melalui proses pembelajaran. Apa bedanya pengajaran dengan pembelajaran? Mudahnya, dalam pengajaran hanya terjadi proses transfer ilmu pengetahuan sedangkan dalam pembelajaran tidak hanya terjadi proses transfer ilmu pengetahuan semata namun juga ada proses trasformasi yang kemudian mewujud dalam perubahan perilaku.
Agar proses penjiwaan hadits tersebut dapat berjalan secara efektif dan efisien dengan hasil yang optimal tentunya membutuhkan ketepatan dalam penggunaan strategi pembelajaran. Namun, tentunya suatu strategi pembelajaran dipilih dan digunakan berdasarkan pertimbangan subjek pembelajaran. Tidak mungkin kita menggunakan metode ceramah untuk peserta didik (maaf) yang tuna rungu.
Ada beberapa strategi pembelajaran yang dapat kita gunakan untuk membelajarkan anak didik kita agar memiliki jiwa kebersihan. Diantaranya adalah strategi dan metode pembelajaran yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Ada dua strategi yang lakukan oleh Rasulullah SAW dalam proses pembelajaran, yaitu:
- Al-Qudwah (Modelling)
Al-Qudwah artinya adalah keteladanan. Setiap pendidik hendaknya sanggup menjadi model yang baik bagi peserta didiknya. Artinya, pendidik sudah mengaplikasikan materi pembelajaran sebelum menyampaikannya pada peserta didiknya, atau menjadi orang yang selalu pertama kali yang mengaplikasikan materi tentang kebersihan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga, peserta didik tidak lagi bertanya contoh kongkrit menjaga kebersihan dan membuang sampah pada tempatnya itu seperti apa. Tidak adanya pertanyaan tersebut karena peserta didik telah mendapatkan model atau figur orang yang telah mampu menjaga kebersihan dan membuang sampah pada tempatnya pada diri pendidiknya.
Strategi Al-Qudwah merupakan cara yang sangat efektif untuk menyampaikan suatu pesan kepada peserta didik terutama yang berhubungan sikap dan perilaku. Pendidik merupakan model yang sangat tepat bagi peserta didik. Hal itu karena, pendidik memiliki kedudukan yang luhur di mata peserta didik sehingga mereka akan selalu berusaha mengikuti jejak ucapan dan tingkah lakunya. Selain itu, keteladanan langsung akan melahirkan rasa cinta yang mendalam dalam diri peserta didik. Ketika cinta ini sudah ada, maka yang terjadi kemudian adalah munculnya rasa ingin melakukan atau meniru apa yang dicintainya.
Kesimpulannya adalah peserta didik akan mudah bahkan terbiasa menjaga kebersihan dan membuang sampah pada tempatnya apabila pendidik yang mendidiknya telah mampu memberikan contoh secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.
- Al-Mau’idah
Al-Mau’idah ini memiliki arti nasihat. Mau’idah Hasanah, nasihat yang baik. Nasihat ini diperlukan karena adanya suatu kesadaran bahwa manusia itu sangat lekat sekali dengan kondisi lupa dan salah. Untuk mengembalikan seseorang yang lupa pada kondisi ingat kembali maka sangatlah penting peran orang lain.
Dalam kaitannya dengan kebersihan, seseorang juga sering lupa dengan pentingnya menjaga kebersihan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, orang lain perlu mengingatkannya. Perilaku tersebut juga merupakan suatu pengamalan amar ma’ruf nahi munkar. Ada tiga metode yang dapat digunakan dalam Al-Mau’idah ini, yaitu:
1. Dialog
Pendidik hendaklah menciptakan suatu suasana yang hangat, harmonis, terbuka, akrab, dan komunikatif dengan semua peserta didiknya. Pendidik memposisikan dirinya menjadi sahabat bagi peserta didiknya. Dengan demikian, tidak ada jarak dan sekat ataupun strata sosial yang menghambat hubungan antara pendidik dengan peserta didik.
Kondisi yang seperti itu juga akan membuka peluang yang sangat besar bagi terbukanya kran ilmu pengetahuan tentang kebersihan. Sebab, peserta didik tidak canggung untuk bertanya dan mengajukan berbagai persoalan yang sedang mereka hadapi mengenai kebersihan. Peserta didik juga tidak merasa takut untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh pendidiknya.
Dialog ini merupakan metodologi pembelajaran yang sangat efektif untuk membangkitkan potensi berfikir peserta didik, di satu sisi, dan di sisi yang lain membangun demokratisasi.
Dalam dialog, peserta didik diajak untuk banyak merenung, memikirkan, dan menganalisa gejala-gejala alam, termasuk tentang diri sendiri yang berhubungan dengan masalah kebersihan. Misalnya, membahas tentang bencana banjir yang sering melanda Indonesia, banyaknya warga yang terkena DBD, dan lain sebagainya.
Melalui proses perenungan, pemikiran, dan penganalisasian terhadap berbagai hal yang berkaitan dengan kebersihan maka peserta didik akan mendapatkan pengetahuan baru tentang kebersihan dan berkembang kepada pemikiran yang lebih kritis. Perenungan akan melahirkan berbagai pertanyaan kritis dan fundamental.
2. Perumpamaan
Sebagai pendidik seharusnya mengetahui karakter para peserta didiknya. Dalam menggapai pemahaman tentang suatu hal, para peserta didik memiliki cara yang berbeda-beda. Di antara mereka ada yang dengan mudah menerima pesan tentang kebersihan walaupun dengan bahasa yang berat, namun yang lain harus melalui cara yang lain. Untuk memudahkan suatu pesan agar dapat diterima, dicerna, dan difahami dengan baik oleh peserta didik, pendidik dapat menggunakan perumpamaan-perumpamaan yang dekat dan akrab dengan kehidupan sehari-hari peserta didik.
Dalam perumpamaan ini, pendidik dapat menggunakan berbagai media yang ada di sekitar peserta didik. Misalnya, paralon, saringan, dan lain sebagainya.
Contoh:
Pendidik dapat menjelaskan bahwa sungai atau selokan itu bagaikan paralon. Pendidik kemudian mengambil paralon. Sambil memegang paralon pendidik bertanya, ”Bagaimana jika paralon ini saya masuki sobekan-sobekan kertas”, lalu pendidik memasukkan sobekan-sobekan kertas tersebut ke dalam paralon. Pendidik kemudian bertanya kembali, ”Apa yang akan terjadi apabila paralon yang sudah penuh dengan sobekan kertas ini saya masuki air?”. Tunggulah sampai sebagian peserta didik memberikan pendapatnya. Setelah itu alirkanlah air tersebut ke dalam paralon. Di akhir peragaan, mintalah para peserta didik untuk menyimpulkan apa yang telah disaksikannya. Tegaskanlah kembali kesimpulan tersebut sehingga peserta didik menjadi mantap dengan kesimpulannya.
3. Cerita
Peserta didik terutama anak biasanya akan lebih mudah menerima suatu pesan melalui cerita. Berilah cerita-cerita ringan yang memuat tentang pentingnya kebersihan yang mudah difahami oleh peserta didik namun berbobot. Ajukanlah pada mereka siapa yang ingin membawakan cerita tersebut. Setelah selesai, tanyakanlah pada peserta didik siapa yang ada dalam cerita. Kemudian, ajaklah peserta didik untuk memahami masing-masing aktor dan menyimpulkannya, misalnya ”Si A itu orangnya bagaimana?”. Kemudian, tanyakanlah pada peserta didik, ”Apakah yang dilakukan oleh Si A itu baik atau tidak? Mengapa?”. Ajukanlah kembali satu pertanyaan, ”Anda ingin seperti siapa? Sebabnya?”. Di akhir pertemuan, pendidik dapat menegaskan kembali apa yang telah difahami oleh peserta didik dan jika waktunya memenuhi, ajaklah peserta didik untuk mempraktikkan langsung dari apa yang telah difahaminya.
Dengan penerapan strategi dan metode pembelajaran sebagaimana di atas diharapkan peserta didik memiliki pengetahuan yang baik mengenai pentingnya menjaga kebersihan dan cinta berpola hidup bersih serta terbiasa berperilaku menjaga kebersihan dan membuang sampah pada tempatnya.
Suatu hal yang tidak kalah pentingnya adalah berilah pemahaman bahwa kita berperilaku bersih semata-mata karena Alloh mencintai kebersihan. Untuk menjaga agar perilaku bersih itu karena Allah, latihlah peserta didik dalam aktivitasnya tersebut dalam keadaan ingat dan menyebut nama Alloh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar