Sabtu, 14 Mei 2011

Enterpreneurship Tanah Liat


Manusia adalah tanah
            Setujukah Anda dengan ungkapan di atas? Setuju boleh, tidak juga itu hak Anda. Kita demokratus saja. Namun, coba baca, fahami, renungkan, ajukanlah pertanyaan pada diri sendiri, dan kemudian ungkapkanlah sebagai sebuah pendapat. Jangan takut salah, karena di sini tidak ada penilaian benar dan salah. Semua pendapat akan mendapat penghargaan yang sama sebagai ”MANUSIA SEJATI” karena keberaniannya mengungkapkan pendapat.
            Sudah belum? Kalau belum, bagaimana kalau saya dulu. Bolehkah? Kok diam saja? Ok! Kata orang bijak diam juga pendapat, yang berarti setuju. Terima kasih.
            Manusia dalam hidup ini pasti selalu berhubungan dengan tanah. Dalam beberapa referensi dikatakan bahwa manusia itu terbuat dari sari tanah atau unsur-unsur yang ada dalam tanah. Selain itu kita juga hidup di atas tanah. Adakah yang memungkiri hal ini? Bahkan ketika di rumah, atap dan dinding rumah kita juga ada yang terbuat dari tanah. Tidak sekedar itu saja, seberapa pun kekuatan kita untuk terbang tinggi ke angkasa, tanah ternyata juga akan menarik dengan kekuatannya yang luar biasa, yaitu gaya gravitasi. Coba renungkan sekali lagi!......... Eh! Jangan terlalu serius kayak gitu! Santai saja kawan! Slowly, softy, easy going! Sudah belum? Kalau sudah cobalah ajukan pertanyaan  semisal, mengapa hidup kita sangat lekat dengan tanah? Tidak hanya ketika kita hidup, sudah mati pun tanahlah yang menemani kita. Sebenarnya, ada apa dengan tanah? Dan pesan apakah yang ingin disampaikan Tuhan kepada kita lewat tanah ini?
            Ok! Mari kita coba telusuri pelan-pelan! Namun, sebelumnya bagaimana kalau kita relaksasi sebentar biar otak kita ini encer. Saya pandu ya? Ok! Sekarang lemaskan dulu otot-otot tubuh kita, jangan ada yang ditekuk. Ambil nafas pelan-pelan lewat hidung, bawa ke perut, tahan sebentar, ya lepaskan pelan-pelan lewat hidung. Lagi…lagi…sekali lagi. Sip! Gimana? Dah lumayan? Nah kalau sudah, sekarang kita bisa mulai.
            Adakah dari kita yang belum pernah menginjakkan kakinya di atas tanah? Tolong jawab dengan jujur! Saat kita menginjakkan kaki di atas tanah, pernahkah kita berfikir dan merasakan perilaku kita? Coba bayangkan kalau kita sedang menginjak tanah dengan kaki telajang…..berfikirlah tentang itu….rasakan perilaku itu dengan hati! Apa yang anda fikirkan dan renungkan? Apapun itu simpanlah dulu!
            Baik! Sekarang ungkapkan dan jangan berargumen!
            Good! Anda telah berhasil di tahap awal. Bersendawalah! Mungkin itu dapat mengurangi ketegangan.
            Sekarang peganglah tangan atau tengkuk anda, kemudian gosoklah sehingga keluar sesuatu dari kulit itu! Sudah keluar? Apa itu?
            Apa di dekat anda ada makanan? Kalau ada, kira-kira makanan itu berasal dari tanaman yang tumbuh di tanah bukan? Atau pernahkah anda memakan atau meminum sesuatu yang tidak pernah bersentuhan dengan tanah?
            Anda sudah punya jawabannya? Kalau sudah, coba tengok kembali kaki kita! Apakah tanah ada di bawah kaki kita? Bisakah kita berempati? Biar empati kita bisa lebih mengena, cobalah untuk meninggalkan ego kita. Apa yang anda rasakan?
            Bukankah posisi tanah ada di bawah kita? Samakah derajatnya dengan kita? Apakah anda merasa lebih mulia daripadanya?
            Walaupun tanah berada di bawah telapak kaki kita, namun jika kaki kita mengalami masalah pastilah dapat merasakan sesuatu darinya yang menggelitik, sehingga kadang-kadang menjadikan kita berusaha menghindarinya dengan cara apapun. Ini artinya, tidaklah selamanya bahwa sesuatu yang selalu berada di bawah kita itu tidak memiliki potensi. Untuk dapat lebih memahaminya, tengoklah dinding rumah anda! Dinding yang selalu anda gunakan untuk berlindung dari kenakalan angin malam atau ancaman para penjahat. Apakah dinding rumah anda terbuat dari batu bata? Setahu anda batu bata terbuat dari apa?
            Atau tataplah atap rumah anda? Apakah atap rumah anda berupa genteng? Dari apa pula genteng itu terbuat? Apakah tanah liat dengan sendirinya dapat menjadi genteng? Di bawahnyalah kita berlindung dari hujan dan terik matahari.
            Tanah liat berubah menjadi batu bata atau genteng semuanya melalui proses yang panjang dan tidak mudah. Apakah anda tahu prosesnya?
            Tanah lihat harus diolah dengan berbagai campuran yang mendukungnya. Kemudian dia dibentuk, dijemur di bawah terik matahari yang panas, dirapihkan, dan kemudian dibakar di api dengan suhu yang sangat tinggi. Kita bayangkan betapa tersiksanya dia. Itupun belum ada jaminan apakah dia akan berhasil menjadi batu bata atau genteng yang berkualitas. Karena biasanya ada yang merah bagus dan tidak sedikit yang setengah hitam setengahnya lagi merah, malah kadang-kadang patah. Batu bata atau genteng yang merah biasanya memiliki kualitas yang tinggi sehingga daya jualnya pun mahal dan diapun siap untuk menjadi dinding yang kokoh atau menjadi atap rumah yang bisa melindungi para manusia atau hewan-hewan yang ada di bawahnya. Tapi, bagaimana nasib batu bata atau genteng yang setengah hitam setengah merah? Bagaimana daya jualnya? Apakah dia akan menjadi dinding yang kokoh atau menjadi atap yang tidak mudah bocor? Biasanya dia paling-paling akan kembali menjadi pijakan manusia dan tragisnya lagi dia tidak bisa membantu tumbuh-tumbuhan untuk dapat tumbuh dengan baik, malah umumnya dia akan menghalangi perkembangan tumbuh-tumbuhan.
            Bagaimana? Seberapa banyakkah sesuatu di dunia ini yang jika diinginkan dapat terwujud dengan instants. Para orang sukses di dunia ini menjadi sukses tidaklah mereka meraihnya dalam waktu sekecap, tapi butuh waktu yang panjang dan perjuangan yang tak pernah kenal lelah. Mereka awalnya rata-rata juga orang biasa sebagaimana kita, namun mereka mau bekerja dari nol. Mereka tidak mempunyai apa-apa, hanya keinginan,  kemauan, semangat, dan bertindaklah yang selalu melekat dan menghiasi dirinya. Dalam perjalanan menuju kesuksesan itu juga banyak kerikil-kerikil tajam yang kadang dapat melukai kulit bahkan mengancam jiwanya, tapi semua itu oleh mereka dianggap sebagai ujian yang apabila mereka mampu melewatinya maka akan lulus dan naik kelas. Kesuksesan itu tadak hanya berarti untuk dirinya sendiri, orang lain juga merasakannya.
            Kita dapat belajar dari orang-orang yang katakanlah bisa dianggap sukses di negeri ini, seperti ust. Lihan, Dahlan Iskan, Ciputra, dan masih banyak lainnya. Dulu mereka bukanlah siapa-siapa, namun sekarang siapa yang tidak mengenalnya. Pelajari, renungkan, dan contohlah perjuangannya! Jangan pelajari kesuksesannya! Supaya setelah sukses bisa tetap survive belajarlah kepada orang-orang yang pernah sukses. Mereka pasti memiliki banyak nasehat yang sangat berharga, seperti sejarah kenapa mereka hancur atau tergelincir dari kesuksesannya. Karena orang cerdas akan belajar dari kesalahan mereka, dan yang benar-benar bijak adalah mereka yang belajar dari kesalahan orang lain.
            Ust. Lihan bukanlah orang yang hanya sukses secara materi, tapi beliau juga sukses dalam kahidupan sosial dan spiritualnya. Contoh yang lebih komplit lagi atau bisa dikatakan sempurna, kita bisa belajar dari Baginda Rasullah SAW. Beliau bisa dikatakan sukses dalam berbagai segi kehidupan.
            Hidup adalah belajar. Jika kita ingin sukses teruslah belajar dan belajar jangan pernah bosan walaupun mungkin itu pernah kita pelajari. Belajar bisa lewat guru, belajar dari kisah-kisah, dan belajar untuk belajar. Hal ini karena keberhasilan sejati adalah meningkatkan tingkat kedamaian batin dan kedekatan dengan Tuhan, yang tidak dapat digoyahkan oleh pasang-surut peristiwa-peristiwa yang bersifat sementara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar